Selamat Hari Ibu ya!

Tanggal 22 Desember kemarin adalah “Hari Ibu” bagi masyarakat Indonesia. Setiap denger radio atau nyalain TV, pasti orang-orang lagi ngomongin hal ini. Mulai dari acara motivasi kaya “Mario Teguh Golden Ways” sampe siaran-siaran radio yang kocak dan geblek parah (baca: Putuss-nya Prambors). Kalau dipikir-pikir agak janggal juga sih merayakan hari ibu seperti saat ini, mengingat pada awalnya hari ibu di Indonesia lebih mengarah ke “Hari Wanita” (makanya nggak ada “Hari Ayah” kan di Indonesia?). Dulu hari ibu dimaknai sebagai hari pergerakan dan perjuangan wanita dalam segala bidang, bukan hanya peran wanita sebagai ibu. Namun, saya rasa hal ini bukan untuk diperdebatkan, mengingat peran paling penting wanita adalah sebagai ibu. Jadi, saya akan melanjutkan topik ini dengan menuliskan hal lain saja.

Di post ini saya ingin menceritakan hal yang lebih dekat dengan saya, yaitu hubungan saya dengan ibu saya. Mama, begitulah saya memanggilnya. Hubungan saya dan mama bisa dibilang dekat. Saya tidak canggung bercerita tentang berbagai hal serta bertukar pikiran dengannya. Mama banyak memberikan pertimbangan pada keputusan-keputusan besar yang saya ambil serta memotivasi saya. (Papa saya juga kok.. 😉 ) Mungkin tidak akan ada habisnya bila saya bercerita tentang mama saya. Anda yang membaca blog saya juga pasti bosan karena topik ini sangat ‘lokal’. 😀 Yang jelas, saya kurang ahli dalam bercerita hal-hal yang mengharukan dan menyentuh. Bisa-bisa saya menangis duluan karena terharu.. hehehe 😛

Sekarang saya mau posting sebuah cerita yang cukup menyentuh, tapi ini bukan karangan saya. Saya menemukan artikel karangan mama saya ini di majalah Ayahbunda edisi Oktober 1991 yang kebetulan disimpan oleh nenek saya dengan apik di lemari. Pas mau posting, majalah ini muncul begitu saja setelah sekian lama tidak saya lihat. Inti artikel tersebut adalah suka-duka mama saya ketika harus berangkat sekolah keluar negeri dan meninggalkan saya di Indonesia. Silahkan membaca lah kalo gitu. Enjoy!

Beratnya Berpisah dengan Anak

“Tanpa Tiestri saya sulit berkonsentrasi”

Saya bekerja sebagai staf peneliti di BPPT. Pertengahan tahun 1990 yang lalu saya mendapat tawaran, beasiswa untuk melanjutkan studi ke Kanada. Tentu saja saya senang, karena sebagai peneliti tentunya saya harus terus mempertajam skill saya.

Yang memberatkan saya untuk pergi memang hanya anak. Waktu itu Tiestri, anak tunggal kami, baru berusia 3 tahun. Masih kecil, apa bisa ditinggal untuk waktu yang cukup lama? Apalagi suami saya juga sedang di Jerman untuk menyelesaikan program S-3 di bidang Teknik Lingkungan. Jadi, kalau saya juga pergi, Tiestri akan sendirian di sini.

Rasanya ingin sekali saya membawa Tiestri serta, tapi itu tidak mungkin. Ada peraturan dari pihak pemberi beasiswa yang melarang saya membawa anak sebelum saya menjalani program pendidikan selama 6 bulan. Walau tanpa Tiestri. Pertimbangan saya, ada batasan umur bagi peserta program beasiswa pemerintah. Kalau saya tidak berangkat sekarang, mungkin saya tidak tak akan pernah bisa berangkat lagi. Karena, beasiswa ‘kan tidak setiap tahun ada, izin atasan pun tidak setiap saat bisa diperoleh. Tapi yang terpenting, saya bisa menitipkan Tiestri pada orang tua saya. Untungnya sejak bayi Tiestri memang sudah akrab dengan nenek dan kakeknya, karena setiap hari saya titipkan dia di rumah neneknya, lalu pulang kantor baru saya jemput lagi.

Bulan Juli 1990, saya meninggalkan Jakarta menuju Kanada. Tiestri kelihatannya biasa-biasa saja waktu saya tinggal. Mungkin karena masih kecil ya, jadi dia belum bisa membayangkan bahwa ibunya akan pergi jauh dan lama.

Di Kanada, rombongan kami tinggal di asrama, sebelum pindah ke apartemen. Ada 9 ibu, termasuk saya. Hari pertama, kami nangis semua. Tapi tidak ada yang mau cerita penyebabnya. Akhirnya semua ngaku, rindu anak…

Kadang-kadang rindu saya kepada Tiestri tak tertahankan. Sedang apa dia, apa dia sudah makan, apa dia mencari-cari saya? Apalagi pernah pas saya telepon orang-orang di rumah sedang kehilangan dia. Saya panik sekali, saya bingung tidak tahu harus berbuat apa dan saya benar-benar takut terjadi sesuatu pada dia. Untungnya akhirnya ketahuan bahwa dia diajak adik ipar saya keluar kota, dan adik ipar saya itu lupa bilang pada kakek dan neneknya.

Kalau kangen saya kepada Tiestri sudah tak tertahankan, saya jadi sulit berkonsentrasi pada studi saya. Apalagi kalau sedang menghadapi tugas akademis yang begitu berat dan membuat saya putus asa, saya suka berpikir, “Ngapain saya ke sini? Apa yang saya cari sampai rela pergi jauh-jauh meninggalkan anak?” Cuma kalau saya ingat kembali proses seleksi dan persiapannya, rasanya malu kalau sampai gagal. Semangat belajar saya pun timbul kembali.

Selama berpisah dengan Tiestri, seminggu sekali, kadang 10 hari sekali, atau kalau lagi enggak punya uang, dua minggu sekali, saya telepon dia. Kadang-kadang dia mau bercerita banyak, sampai saya deg-degan, takut mahal bayar teleponnya. Tapi kadang dia enggak mau terima telepon dari saya. Dia kesal, dia marah sama saya, “Mama kok enggak datang-datang.” Kalau sudah begitu saya jadi sedih. Apalagi kalau dengar cerita dari ibu saya bahwa Tiestri suka pura-pura telepon dan ngomong sendiri, “Oh, mama lagi sekolah ya? Saya juga lagi sekolah, Ma!” Selain telepon, sebulan sekali saya kirim sesuatu buat dia, apa saja deh, tidak perlu barang yang mahal.

Kebetulan bulan Mei tahun ini saya mendapat libur lebih-kurang tiga bulan. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan.

Saya pulang untuk mengambil Tiestri. Saya memang tidak bisa berpisah terlalu lama dengan dia. Lagipula saya juga khawatir kalau terlalu lama berpisah, hubungan kami menjadi jauh, dan dia jadi tidak punya model tokoh ibu.

Di Kanada, saya sudah persiapkan segalanya. Saya sudah cari apartemen untuk keluarga, sekolah TK untuk Tiestri, dan saya juga sudah mendaftarkan dia pada penitipan anak di dekat apartemen saya.

Kalau Tiestri sudah tinggal bersama saya, ayahnya jadi bisa lebih sering mengunjungi dia, dan saya harap saya juga akan lebih bisa berkonsentrasi pada studi saya. Dengan demikian program S-2 dalam bidang ekonomi yang sedang saya jalani ini bisa saya selesaikan secepatnya.

Sudah selesai baca artikelnya? Saya sudah selesai membacanya dan sekarang sedang merasa terharu yang amat sangat.. 😀 Thank you for everything mom.. Love you.. Always have, always will.. 😉

Advertisements

9 responses to this post.

  1. jadi dulu di bawa ke kanada ya? wah so sweet banget bay =)

  2. bay,bukannya hari ibu itu tgll 22 y?CMIIW

    tp tulisan nyokap lo menyentuh y..

    ibu memang

  3. Posted by rani resanti on December 24, 2008 at 12:30

    bay,, kena tag! hihihi..
    liat blog gw yaa.. xp
    thx

  4. Posted by arizal04 on December 28, 2008 at 09:38

    bayiii.. numpang lewat… :))

  5. Posted by razzz on January 12, 2009 at 16:41

    Bay!
    Terharu gw baca tulisan nyokap lo..heheheee…
    Jadi pengen punya anak.. loh?! Jadi ngawur..ehehehe…
    Nice writing bay!

    RAS

  6. @beeth:
    iya bebeth, akhirnya dibawa nyokap ke Kanada selama 2,5 tahun..i feel so lucky.. 😉

    @irmangust:
    iya man, tgl 22 harusnya, udah gw edit tuh..

    @rani resanti:
    haduh2..tag apaan nih?? gw blom sempet2 bikin ran, sabar ya..hehehe

    @arizal04:
    iyah bed, silahkan saja..hehehe *ngga penting abis*

    @razzz:
    thanks ricky!
    wah udah mikirin pengen punya anak aja lo rick..brarti udah ada calonnya dong?? hehehe 😛
    good luck in your search for the one.. 😉

  7. Posted by drea on January 27, 2009 at 07:28

    huwaaa neneeek..terharuu..gakbayang mama puri bisa nulis bgituan hehehehe *piss

  8. @ drea:
    wah parah lo nek. gw bilangin nyokap gw lho. hahaha.
    gw jg nemu majalahnya ngga sengaja. untung eyang ti ‘sangat rapi’ dalam mendokumentasikan sgala hal. hahaha.

  9. Ikut nimbrung ya… selamat hari bu buat ibu2 dan calon ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: